Jika Anda masih menggelayuti pertanyaan di atas, berarti Anda masih hidup di dekade lalu. Bisnis online itu PENTING BANGET, bukan lagi opsional, namun sudah menjadi kewajiban. Yah, memang masih belum merata penyebarannya namun semakin ke sini perkembangannya semakin menjanjikan.
Bulan Januari 2012 ini menyisakan cukup banyak kenangan seru sekaligus inspiratif. Layaknya awal tahun, Januari penuh dengan perencanaan pribadi, keluarga, dll. Untuk kali ini saya ingin membagikan hal-hal yang sudah dialami oleh teman-teman Komunitas Blogger Depok (deBlogger) dan apa-apa saja yang akan dilakukan sepanjang tahun ini setelah brainstorming kita giatkan satu bulan terakhir.
Mentok. Sudah hampir seminggu tidak ada tulisan yang keluar dan tiap hari stress memikirkan tema. Sebenarnya ada sih yang saya ingin tuliskan dan bahan-bahannya sudah disiapkan. Namun kok bahan-bahan itu tercecer dan belum sempat dicari kembali. Lalu kesibukan yang cukup menyita waktu… Ah banyaklah alasannya. Postingan ini juga sebenarnya karena kejar setoran saja agar target 10 postingan di Januari tercapai.
Sepertinya saya terjerembab dalam pola pemikiran dan kebodohan yang sama. Ke mana itu teknik free writing yang saya dengungkan?
Maaf, saat ini saya lagi mentok. Doakan agar semangat saya segera pulih ya teman-teman
Tulisan berikut adalah lanjutan dari yang sebelumnya di sini.
Sejak tulisan pertama saya mengenai listrik prabayar dipublikasikan pada bulan Mei 2011, beragam tanggapan masuk hingga kini yang menunjukkan betapa perhatian masyarakat terhadap kebijakan baru PLN ini begitu besar. Menyimak berita-berita dan blog-blog yang mengulasnya, terlihat isu ini ditanggapi pelanggan dari beragam perspektif, dan tentunya, beragam emosi. Komentar-komentar yang masuk ke blog saya juga memperlihatkan emosi itu; umumnya para pengomentar mengeluhkan biaya yang tiba-tiba melonjak setelah migrasi ke prabayar dan juga token listrik yang agak susah didapatkan.
Bukan dengan maksud menyombongkan diri di depan Anda atau pun mengiklankan sesuatu dari PLN, namun selama hampir setahun ini saya tidak pernah mendapatkan masalah dengan meteran listrik prabayar di rumah. Bagaimana bisa?
Di dinding kelas atau sekolah, lazimnya tertempel pengumuman yang berisikan sederet peraturan untuk para siswa di sekolah tersebut yang menyangkut banyak hal, mulai dari ketepatan waktu, kebersihan, perilaku, sampai soal membawa ponsel. Deretan aturan yang panjangnya 5-10 poin tersebut umumnya dibuat secara sepihak oleh sekolah tanpa melibatkan siswa dan tau-tau langsung tertera di dinding dan otomatis mengikat semua siswa. Siswa yang tidak dilibatkan juga cuma bisa bengong saja membaca peraturan itu. “Semua demi ketertiban dan nama baik sekolah kita,” demikian seorang ibu orang tua siswa berkomentar.
Memangnya para siswa, terutama setingkat SMA, belum paham aturan umum di sekolah ya? Perlukah sedetail itu? Atau bagaimana jika para siswa diajak terlibat dalam menentukan peraturan yang baik untuk mereka sendiri?
Sebulan terakhir ini saya mengamati sebuah gejala menarik, yakni mulai semaraknya komunitas-komunitas onliner di Depok yang mengadakan meetup atau kegiatan lain di seputar Depok. Sebenarnya sudah lama mereka berjalan, namun selama ini masing-masing komunitas bergerak sendiri-sendiri. Nah, beberapa minggu berselang, sebuah inisiatif datang dari Tommy Herdiansyah dan kawan-kawan untuk mengumpulkan para penggiat komunitas di Depok dalam sebuah diskusi untuk saling berkenalan, sharing beban masing-masing dan merumuskan kebutuhan bersama. Dari pertemuan itu terungkap adanya kebutuhan untuk bersinergi dalam rangka memberdayakan warga Depok untuk menggerakkan dinamika sosial, ekonomi, dan teknologi di seputar kota di selatan Jakarta ini.
Berapa jari yang Anda gunakan untuk mengetik? Sudahlah, jujur saja. Saya? 4-6 jari saja. Hehe. Sangat jauh dari keterampilan mengetik 10 jari yang pernah dipelajari oleh orang tua kita. Entah apakah pelatihan seperti itu masih diadakan atau tidak, padahal sangat berguna lho.
Nah, berdasarkan hasil tes kecepatan mengetik yang iseng saya lakukan di subuh ini berkat rekomendasi seorang teman di milis, saya mendapat skor 70 KPM (kata per menit). Perinciannya sebagai berikut:
Tertarik hendak mencoba? Versi Bahasa Indonesia-nya ada di sini.
Dua tahun terakhir industri musik Korea menebarkan demam K-Pop ke segenap penjuru Asia. Indonesia pun tak luput dari fenomena tersebut; playlist lagu-lagu K-Pop memenuhi perangkat murid-murid saya, ratusan anak muda Indonesia berangkat ke Singapura untuk menonton konser SNSD dan Super Junior, boyband dan girlband Indonesia mulai bermunculan, sampai pada reality show yang bertujuan menciptakan boyband dan girlband baru di industri I-Pop(semacam K-Pop versi lokal imitasi) pun dibuat.
Kali ini saya ingin turut menulis tentang K-Pop. Tujuannya bukan untuk menganalisis dan mengkritik. Saya menulis sebagai korban!
Alkisah di negeri Ayam, tinggallah dua ekor anak ayam. Mereka adalah kakak-beradik bernama Aa dan Yamyam. Meski berasal dari induk yang sama, tingkah laku keduanya sangat bertolak belakang. Aa adalah anak ayam yang manis dan penurut, sedangkan Yamyam dikenal sebagai anak yang nakal dan suka menjerumuskan kakak-beradik lainnya termasuk Aa.
Aa, si anak ayam penurut, diberikan kebebasan untuk berkelana di seluruh negeri Ayam tanpa batasan dan hanya dibekali pesan sederhana: jaga diri baik-baik. Dengan kepercayaan penuh yang diberikan kepadanya, Aa dapat menggunakan kebebasan tersebut secara bertanggung jawab, termasuk memperbaiki sendiri kesalahan yang dilakukannya agar tidak mencelakai dirinya sendiri dan anak-anak ayam lain. Sebaliknya Yamyam, oleh karena perilakunya yang nakal, mendapatkan perlakuan keras dari orang tuanya. Kemana-mana Yamyam selalu dikawal oleh ‘pagar peraturan’ yang membuatnya tidak leluasa bergerak. Kesal dengan pembatasan seperti itu, Yamyam tumbuh dengan menyimpan dendam.
Bagi orang Indonesia, pulang kampung tentunya menjadi peristiwa istimewa yang selalu disambut gembira dan dirindukan kala sedang di perantauan, apalagi bila kita sudah lama sekali tidak pulang kampung. Namun apa jadinya jika kita mengaku berasal dari satu daerah yang bahkan sama sekali belum pernah kita kunjungi?