Jakarta Masih Punya Hati

sumber: antaranews.com

Entah karena apa saya memutuskan melangkahkan kaki ke bioskop pada Senin siang lalu dan menonton film. Setelah kecewa karena film ‘The Lady’ ternyata belum diputar di Bekasi, akhirnya saya memandang poster film ‘Sanubari Jakarta’ yang diproduksi Lola Amaria dan Fira Sofiana ini. Tergelitik dengan posternya yang hanya berupa sederetan simbol orang dengan beberapa icon berwarna dan berbentuk beda, saya pun membeli tiketnya. Lalu, film apakah itu sebenarnya?

Ternyata dugaan bahwa saya akan menonton sebuah film salah. ‘Sanubari Jakarta‘ berisi sepuluh kumpulan film pendek garapan berbagai sutradara berbeda dengan tema kisah cinta yang berbeda-beda pula. Lalu apa yang menjadi benang merah pemersatu kesepuluh kisah cinta itu? Sebelumnya saya akan berbagi tiga sinopsis dari kesepuluh cerita tersebut yang diambil dari Republika Online:

“½”, cerita yang disutradarai oleh Tika Pramesti ini berkisah tentang seorang pria yang bertanya tentang pilihan hidupnya. Hingga tiba-tiba muncul perempuan bernama Anna. Pilihan mana yang akan dia pilih? Siapa Anna sebenarnya dan mengapa muncul laki-laki bernama Biyan diantara Abi dan Anna?

Malam Ini Aku Cantik, cerita yang diangkat dari cerpen dengan judul yang sama bercerita tentang kehidupan seorang waria, Agus. Kisah ini menceritakan perasaan Agus ketika harus mangkal hingga ketika ia diolok-olok karena pekerjaannya tersebut. Cerita ini disutradai oleh artis cantik Dinda Kanya Dewi.

Lumba-Lumba, bercerita tentang seorang guru di sebuah TK Lumba-Lumba bernama Adinda. Dia selalu mengajarkan kepada anak-anak muridnya tentang lumba-lumba. Hingg Adinda bertemu dengan perempuan bernama Anggya yang merupakan orang tua dari salah seorang muridnya dan terjalinlah kisah kasih di antara mereka berdua.

Sinopsis selengkapnya dapat dibaca di Republika Online.

Dari tiga cuplikan di atas saja sudah bisa tergambar bahwa film ini menampilkan sesuatu yang lain dan belum dibanyak disentuh oleh sineas Indonesia, yakni percintaan kaum LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender). Film-film yang ada di sini semua berdurasi sepuluh dan digarap oleh sepuluh sutradara berbeda, termasuk Lola Amaria sendiri yang menyutradarai salah satu cerita. Semua kisah ini katanya berdasarkan imajinasi sutradara namun berangkat dari potret keseharian hidup warga Jakarta. Pada sebuah jumpa pers, Lola mengatakan bahwa pemilihan tema yang tidak biasa ini bertujuan memperkenalkan kepada khalayak umum bahwa ada komunitas-komunitas tertentu di Jakarta yang eksis dan patut dihargai. Bukan untuk menghakimi atau pun membela komunitas tersebut; semata-mata ingin menceritakan bahwa mereka ada.

Lola dan Fira yang memelopori film ini mengaku bahwa proses pembuatan film memakan waktu satu tahun; cukup lama karena didahului riset, seleksi dan konsultasi yang panjang. Sadar bahwa pandangan masyarakat akan sangat beragam dan stigmatisasi mungkin terjadi, Lola tidak mau ambil risiko bias sehingga risetnya lama. Satu lagi yang unik, para pemain tidak dibayar sama sekali untuk berperan dalam film ini dan nampaknya semua tidak keberatan demi kecintaan mereka kepada akting. Namun nantinya hasil keuntungan film ini akan dibagi rata ke sepuluh sutradara dan diteruskan pula ke para pemainnya. Langkah ini terpaksa dilakukan karena keterbatasan dana untuk membuat film indie tersebut.

Bagian awal sebuah cerita selalu menampilkan gambar-gambar pemandangan Jakarta dan riuh-rendah warganya di jalan-jalan sebelum kamera menyoroti sosok utama cerita tersebut. Kesan yang saya dapatkan adalah Jakarta itu kota yang keras dan tidak berperikemanusiaan dan orang-orang di dalamnya bergerak seperti semut pekerja yang setiap saat bisa diinjak oleh mereka yang mengaku kaya dan berkuasa. Namun ketika kamera mulai menyoroti beberapa warga secara personal dan tokoh cerita, kepribadian mereka mulai terlihat. Berikut saya sajikan beberapa gambar secara beruntun:

Kotak Coklat - Sanubari Jakarta (sumber: databasefilm.blogspot.com)

 

Menunggu Warna - Sanubari Jakarta (sumber: boleh.com)

 

Lumba-Lumba - Sanubari Jakarta (sumber: boleh.com)

 

1/2 - Sanubari Jakarta (sumber: boleh.com)

Terus terang, saya terpana dan terhenyak. Beberapa adegan di film ini terlalu muak ketika saya tonton dan emosi saya berkecamuk karena tidak nyaman, terutama ketika menyaksikan pergulatan emosi Anggia, seorang ibu satu anak. Namun harus saya akui bahwa film ini membuat saya merenung banyak. Pesan utama yang saya catat adalah setiap orang ini punya sanubari dan pergumulannya sendiri-sendiri dan mesti dilihat, diajak bicara, dan dipahami satu demi satu. Kita boleh saja terpana atau bergidik melihat sosok asing yang penampilan dan gaya hidupnya berbeda dengan kita; hal itu lumrah terjadi mengingat masing-masing berasal dari latar belakang keluarga dan pendidikan yang berlainan. Namun ketika perbedaan itu ‘ditabrakkan’ ke muka, maka kedewasaan berpikir dan keterbukaan menerima keragaman menjadi kunci apakah kita lebih ‘baik’ atau tidak. 

Film ini akhirnya mengajak saya sendiri berpikir, apakah saya masih punya hati?

Ulasan lebih dalam dapat dibaca di Boleh.com. Tapi sebelum baca, tonton filmnya dulu ya. :D

24 Thoughts on “Jakarta Masih Punya Hati

  1. hem dari pada galau joblo mereka lebih memilih hub percintaan LGBT (lesbian, gay, biseksual, transgender).
    Sobat Bercahaya recently posted..Mohon Do’a

  2. Filmnya gak masuk di sini T-T
    iQko recently posted..Menjajal Kuliner Kantor Pos Besar

  3. saya mulai suka Jakarta.. apapun kata orang :)
    mamie recently posted..Modus Anomali, Nonton Anomali

  4. Saya biasanya menghindari film-film seperti ini, tentu saja saya memiliki sejumlah pertimbangan tertentu :) .
    Cahya recently posted..Plumeria

  5. baru tau ada film ini
    tapi kayaknya sih gak bakalan nonton deh hehehe

  6. cerita yg menarik, jakarta memang selalu menarik dari sisi sosialnya, kota yg keras tapi smoga saja masih ada hati, hati yg lembut, hati yg peduli, dan hati yang penuh kasih sayang, Semoga ngak pesimis mereka2 yg tinggal di Jakarta tapi optimis dalam film. :D

  7. Wah saya lgsung teringat sahabat saya yg mengaku gay..dan seorang sahabat perempuan yg saya tahu dia lesbian..

    Kira2 dengan film ini apa pendapat mereka ya? Dan apa akan semakin berkembangkah kakaum lgbt ini dengan adanya film seperti ini? Menarik untuk dikupas..
    silmina recently posted..Tertipu

  8. Sebaiknya segeralah menikah. *pakai peci*
    giewahyudi recently posted..Nonton Ki Warseno Slenk di HUT Bank DKI Jakarta

  9. hoho imo paling keren itu yang menunggu warna, hitam putih tanpa dialog….. lucu dan realis
    aku nontonnya ber-19 mas :) ))))))
    kw recently posted..event bulan april yang merayakan kartini

  10. hmmm..apakah Film ‘Sanubari Jakarta’ sekontroversial film ‘Brokeback Mountain’ ? lumayan menantang daku untuk menonton film indie ini :D
    yoszca recently posted..‘Kartini-Kartini’ Masa Kini dalam Lensaku

  11. Terhubung, 1/2, Menunggu Warna, Kentang, Kotak Coklat menarik sih menurut aku.
    Rusa recently posted..Bagaimana Musisi di Kemajuan Teknologi Digital?

  12. Pertama thanks buat sharing info tentang film ini…
    Jujur baru pertama kali tau ada film yang ceritanya diambil dari 10 cerita dan diangkat menjadi 1 kesatuan film. *terlepas dari ada film lain yg seperti ini atau tidak.
    Tetapi… It give back my hope bahwa Indonesia punya potensi dan ide kreatif yang sangat mumpuni untuk bisa go international.

    Dari liat trailernya nampaknya sangat sentimentil sekali… Penasaran pengin liat bagaimana kombinasi 10 ceritanya apakah bisa ditemukan benang merah yg menjadikan cerita ini hidup dan satu…
    Tapi… nampaknya kalo aku balik Indonesia udah ga ada lagi… :(

  13. Karena belon nonton gak bisa komentar banyak. Istilah baru nih LGBT. Kalo saya lagibete, hehehe
    Alris recently posted..Nostalgia

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

You may use these HTML tags and attributes: <a href="" title=""> <abbr title=""> <acronym title=""> <b> <blockquote cite=""> <cite> <code> <del datetime=""> <em> <i> <q cite=""> <strike> <strong>

CommentLuv badge

Post Navigation